Laporan Praktikum Alat Aplikasi Pestisida

Laporan Praktikum Alat Aplikasi Pestisida

Pengertian Insektisida

Dalam Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Insektisida, insektisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik, serta virus yang dipergunakan untuk memberantas atau mencegah binatangbinatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Insektisida kesehatan masyarakat adalah insektisida yang digunakan untuk pengendalian vektor penyakit dan hama permukiman seperti nyamuk, serangga pengganggu lain (lalat, kecoak/lipas), tikus, dan lain-lain yang dilakukan di daerah permukiman endemis, pelabuhan, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya.

Aplikasi pengendalian vektor penyakit secara umum dikenal dua jenis insektisida yang bersifat kontak/non-residual dan insektisida residual. Insektisida kontak/non-residual merupakan insektisida yang langsung berkontak dengan tubuh serangga saat diaplikasikan. Aplikasi kontak langsung dapat berupa penyemprotan udara (space spray) seperti pengkabutan panas (thermal fogging), dan pengkabutan dingin (cold fogging) / ultra low volume (ULV). Jenis-jenis formulasi yang biasa digunakan untuk aplikasi kontak langsung adalah emusifiable concentrate (EC), microemulsion (ME), emulsion (EW), ultra low volume (UL) dan beberapa Insektisida siap pakai seperti aerosol (AE), anti nyamuk bakar (MC), liquid vaporizer (LV), mat vaporizer (MV) dan smoke. Insektisida residual adalah Insektisida yang diaplikasikan pada permukaan suatu tempat dengan harapan apabila serangga melewati/hinggap pada permukaan tersebut akan terpapar dan akhirnya mati. Umumnya insektisida yang bersifat residual adalah Insektisida dalam formulasi wettable powder (WP), water dispersible granule (WG), suspension concentrate (SC), capsule suspension (CS), dan serbuk (DP).

Cara kerja Insektisida dalam tubuh serangga dikenal istilah mode of action dan cara masuk atau mode of entry. Mode of action adalah cara Insektisida memberikan pengaruh melalui titik tangkap (target site) di dalam tubuh serangga. Titik tangkap pada serangga biasanya berupa enzim atau protein. Beberapa jenis Insektisida dapat mempengaruhi lebih dari satu titik tangkap pada serangga. Cara kerja Insektisida yang digunakan dalam pengendalian vektor terbagi dalam 5 kelompok yaitu: 1). mempengaruhi sistem saraf, 2). menghambat produksi energi, 3). mempengaruhi sistem endokrin, 4). menghambat produksi kutikula dan 5). menghambat keseimbangan air.
Pengetahuan mengenai cara kerja ini bermanfaat bagi para pelaku pengendalian vektor dalam memilih dan merotasi insektisida yang ada untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam rangka pengelolaan resistensi (resistance management).

Mode of entry adalah cara insektisida masuk ke dalam tubuh serangga, dapat melalui kutikula (racun kontak), alat pencernaan (racun perut), atau lubang pernafasan (racun pernafasan). Meskipun demikian suatu Insektisida dapat mempunyai satu atau lebih cara masuk ke dalam tubuh serangga.
Penggolongan toksisitas suatu insektisida dilakukan oleh badan internasional seperti WHO dan EPA (environmental protection agency) yang merupakan referensi bagi industri insektisida maupun penggunanya.

Toksisitas (toxicity) adalah suatu kemampuan yang melekat pada suatu bahan kimia untuk menimbulkan”keracunan”/”kerusakan”. Toksisitas biasanya dinyatakan dalam suatu nilai yang dikenal sebagai dosis atau konsentrasi mematikan pada hewan coba dinyatakan dengan lethal dose (LD) atau lethal concentration (LC). LD50 adalah dosis mematikan/lethal yang mematikan 50% hewan coba jika diberikan melalui mulut (oral) atau diserap melalui kulit (dermal) atau bahkan terhisap melalui pernafasan (inhalasi), yang biasanya dinyatakan dalam mg suatu Insektisida per kg berat badan (mg/kg bb).
LC50 adalah konsentrasi suatu Insektisida (biasanya dalam makanan, udara atau air) untuk mematikan 50 % hewan coba. LC50 biasanya dinyatakan dalam mg/L atau mg/serangga. Semakin kecil nilai LD50 atau LC50, semakin beracun Insektisida tersebut. Hewan coba yang biasa digunakan untuk menentukan nilai toksisitas Insektisida biasanya mamalia seperti tikus.

 Laporan Praktikum Alat Aplikasi Pestisida  Laporan Praktikum Alat Aplikasi Pestisida

Pengertian bahaya (hazard) mengacu pada potensi dalam menimbulkan keracunan ketika Insektisida diaplikasikan. Bahaya merupakan fungsi dari toksisitas dan potensi paparannya. Bahaya = toksisitas x paparan. Dengan mengurangi paparan, bahaya Insektisida yang diaplikasikan dapat diminimalkan. Paparan terhadap Insektisida dapat dikelola dengan penanganan yang benar, kemasan yang baik, jenis formulasi yang sesuai, pengenceran dan dosis aplikasi yang benar, serta pengurangan jumlah aplikasi.

Usaha untuk mengurangi bahaya berarti juga merupakan usaha untuk meningkatkan keamanan.
Klasifikasi toksisitas insektisida menurut rekomendasi WHO digunakan berdasarkan nilai LD50 tikus oral dan dermal. Dari angka-angka tersebut, satu dari empat warna yang ada digunakan sebagai pita warna (coloured band) sesuai dengan pernyataan bahaya dan simbol bahaya yang menunjukkan klasifikasi bahayanya dan diletakkan sepanjang bagian bawah label

Pemilihan Insektisida
Keberhasilan suatu pengendalian memerlukan pengetahuan tentang hubungan antara vektor, jenis formulasi insektisida serta cara aplikasinya.

Jenis insektisida untuk pengendalian vektor:
1. Organofosfat (OP).
Insektisida ini bekerja dengan menghambat enzim kholinesterase. OP banyak digunakan dalam kegiatan pengendalian vektor, baik untuk space spraying, IRS, maupun larvasidasi. Contoh: malation, fenitrotion, temefos, metil-pirimifos, dan lain lain.
2. Karbamat.
Cara kerja Insektisida ini identik dengan OP, namun bersifat reversible (pulih kembali) sehingga relatif lebih aman dibandingkan OP. Contoh: bendiocarb, propoksur, dan lain lain.
3. Piretroid (SP).
Insektisida ini lebih dikenal sebagai synthetic pyretroid (SP) yang bekerja mengganggu sistem syaraf. Golongan SP banyak digunakan dalam pengendalian vector untuk serangga dewasa (space spraying dan IRS), kelambu celup atau Insecticide Treated Net (ITN), Long Lasting Insecticidal Net (LLIN), dan berbagai formulasi Insektisida rumah tangga. Contoh: metoflutrin, transflutrin, d-fenotrin, lamda-sihalotrin, permetrin, sipermetrin, deltametrin, etofenproks, dan lain-lain.
4. Insect Growth Regulator (IGR).
Kelompok senyawa yang dapat mengganggu proses perkembangan dan pertumbuhan serangga.
IGR terbagi dalam dua klas yaitu : · Juvenoid atau sering juga dikenal dengan Juvenile Hormone Analog (JHA). Pemberian juvenoid pada serangga berakibat pada perpanjangan stadium larva dan kegagalan menjadi pupa. Contoh JHA adalah fenoksikarb, metopren, piriproksifen dan lain-lain. · Penghambat Sintesis Khitin atau Chitin Synthesis Inhibitor (CSI) mengganggu proses ganti kulit dengan cara menghambat pembentukan kitin. Contoh CSI: diflubensuron, heksaflumuron dan lain-lain.
5. Mikroba
Kelompok Insektisida ini berasal dari mikroorganisme yang berperan sebagai insektisida. Contoh: Bacillus thuringiensis var israelensis (Bti), Bacillus sphaericus (BS), abamektin, spinosad, dan lain-lain.
BTI bekerja sebagai racun perut, setelah tertelan kristal endotoksin larut yang mengakibatkan sel epitel rusak dan serangga berhenti makan lalu mati. BS bekerja sama dengan BTI, namun bakteri ini diyakini mampu mendaur ulang diri di air akibat proliferasi dari spora dalam tubuh serangga, sehingga mempunyai residu jangka panjang. BS stabil pada air kotor atau air dengan kadar bahan organik tinggi.
Abamektin adalah bahan aktif insektisida yang dihasilkan oleh bakteri tanah Streptomyces avermitilis. Sasaran dari abamektin adalah reseptor γ-aminobutiric acid (GABA) pada sistem saraf tepi. Insektisida ini merangsang pelepasan GABA yang mengakibatkan kelumpuhan pada serangga.
Spinosad dihasilkan dari fermentasi jamur aktinomisetes Saccharopolyspora spinosa, sangat toksik terhadap larva Aedes and Anopheles dengan residu cukup lama. Spinosad bekerja pada postsynaptic nicotonic acetylcholine dan GABA reseptor yang mengakibatkan tremor, paralisis dan kematian serangga.
6. Neonikotinoid.
Insektisida ini mirip dengan nikotin, bekerja pada sistem saraf pusat serangga yang menyebabkan gangguan pada reseptor post synaptic acetilcholin. Contoh: imidakloprid, tiametoksam, klotianidin dan lain-lain.
7. Fenilpirasol
Insektisida ini bekerja memblokir celah klorida pada neuron yang diatur oleh GABA, sehingga berdampak perlambatan pengaruh GABA pada sistem saraf serangga. Contoh: fipronil dan lain-lain
8. Nabati
Insektisida nabati merupakan kelompok Insektisida yang berasal dari tanaman Contoh: piretrum atau piretrin, nikotin, rotenon, limonen, azadirachtin, sereh wangi dan lain-lain.
9. Repelen
Repelen adalah bahan yang diaplikasikan langsung ke kulit, pakaian atau lainnya untuk mencegah kontak dengan serangga. Contoh: DEET, etil-butil-asetilamino propionat dan ikaridin. Repelen dari bahan alam adalah minyak sereh/sitronela (citronella oil) dan minyak eukaliptus (lemon eucalyptus oil).

Formulasi Insektisida

Formulasi adalah bentuk akhir hasil olahan bahan teknis suatu insektisida. Bentuk formulasi dapat berupa cair, padat, setengah padat, kental atau campuran cair dan padat. Pemilihan jenis formulasi sangat berperan penting dalam keberhasilan pengendalian. Sebagai contoh, pada permukaan porus seperti batubata dan lapisan semen, formulasi EC (emulcifiable concentrate) akan langsung terserap pada permukaan tersebut, sehingga tidak efektif. Sedangkan formulasi lain seperti EC (emulsifiable concentrate), WP (wettable powder), WG (water dispersible granule), CS (capsule suspension) dan SC (suspension concentrate) akan tetap tinggal dipermukaan dan akan efektif mengendalikan serangga yang menyentuhnya.

Pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan formulasi adalah (a) perilaku hama, (b) ketersediaan alat, (c) bahaya drift – kontaminasi lingkungan, (d) keamanan operator dan organisma bukan sasaran, (e) kemungkinan kontaminasi terhadap makanan, (f) bercak/stain, (g) jenis/tipe permukaan, dan (h) biaya.

Komponen formulasi secara mendasar terdiri dari bahan aktif (bahan teknis), pelarut (solvent), pengencer (diluent) dan surfaktan (surface-active agent), dan sinergis. Bahan aktif adalah bahan utama yang secara biologis bersifat sebagai Insektisida. Kadar bahan aktif untuk formulasi cair dinyatakan dalam g/L, sedangkan formulasi padat, setengah padat, kental atau campuran cair dan padat dinyatakan dalam persen bobot (g/kg). Pelarut adalah bahan yang digunakan untuk “melarutkan” bahan aktifnya. Umumnya pelarut insektisida berupa minyak (hidrokarbon), talk dan air. Pelarut harus dibedakan dengan pengencer. Pengencer adalah bahan yang digunakan untuk mengencerkan formulasi sehingga siap untuk diaplikasikan. Contoh pengencer adalah air dan solar. Surfaktan adalah bahan untuk memperbaiki sifatsifat seperti kebasahan, penyebaran (spreading), dispersibilitas, dan pembentukan emulsi. Ada dua tipe surfaktan yang umum digunakan, yaitu emulsifier dan wetting agent (zat pembasah). Emulsifier membantu tercampurnya larutan berdasar minyak dengan air. Tanpa surfaktan minyak dan air tidak akan bercampur dan penambahan emulsifier akan membuat larutan seperti susu. Bahan pembasah membantu tercampurnya Insektisida yang berbentuk partikel padat dengan air. Bahan pembasah umumnya ditambahkan untuk formulasi berbentuk padatan seperti WP dan WG. Sinergis adalah bahan kimia meskipun tidak harus mempunyai sifat Insektisida namun dapat meningkatkan potensi Insektisida dari bahan yang ditambahkan. Contoh dari sinergis adalah PBO (piperonyl butoxide) dan MGK® 264.

Beberapa pengertian dalam formulasi Insektisida yang harus benar-benar dipahami antara lain adalah emulsi, solution dan suspensi. Emulsi adalah satu cairan yang terdispersi dalam cairan lainnya, masing-masing cairan tetap dalam identitasnya. Solution adalah campuran dua atau lebih bahan aktif dalam bahan lain (umumnya cairan), di mana semua bahan aktif tersebut secara sempurna larut. Suspensi adalah campuran dari partikel padat yang terdispersi dalam suatu cairan atau gas, namun tidak larut di dalamnya.

Baca Juga :  Jasa Fogging di Gandasari Bandung

Jenis-jenis formulasi-formulasi yang banyak digunakan pada kegiatan pengendalian hama permukiman antara lain seperti yang tersebut di bawah ini:

1. Oil Miscible Liquid (OL)
Formulasi ini hanya terdiri dari bahan aktif yang dicampur dengan satu pelarut yang “kuat” (misalnya hidrokarbon aromatik) dan pelarut lain seperti minyak tanah. Aplikasinya OL harus diencerkan dengan pengencer minyak (seperti solar). Keuntungan formulasi OL adalah efek knockdown yang lebih cepat dibandingkan dengan formulasi yang lain karena (1) pelarut dalam formulasi tersebut membantu melarutkan lapisan lilin pada integumen serangga yang memudahkan kontak atau penyerapan bahan aktif ke dalam tubuh serangga, dan (2) minyak sebagai pelarut juga mempunyai daya insektisida.
2. Emulsifiable Concentrate (EC)
Formulasi EC dibuat dengan menambahkan emulsifier pada campuran bahan aktif dan satu atau lebih pelarut agar dapat bercampur dengan air membentuk emulsi minyak dalam air yang berupa larutan putih seperti susu yang tidak tembus cahaya. Larutan putih seperti susu ini bahkan menjadi generik bagi awam bahwa insektisida itu harus (bau dan) membentuk larutan seperti susu bila ditambahkan air.
3. Microemulsion (ME)
Formulasi ini analog dengan formulasi emulsifiable concentrate (EC) dalam hal pelarutnya dan bahan aktif yang larut di dalamnya, tetapi formulasi ME setelah diencerkan dengan air akan membentuk suatu mikroemulsi dan bukan emulsi.
Di industri pengendalian hama permukiman banyak produk di pasaran dalam formulasi konsentrat emulsi berbasis air (water-based microemulsion concentrate) atau dikenal dengan formulasi ME, yang umumnya mengandung bahan aktif yang lebih rendah dibandingkan MEC. MEC umumnya mengandung lebih banyak surfaktan dibandingkan formulasi ME. Formulasi ini biaya pembuatan lebih mahal dibandingkan EC sehingga produk akhirnya menjadi lebih mahal.
4. Emulsion, Oil in Water (EW)
Formulasi EW atau dikenal juga sebagai macro-emulsion adalah formulasi cairan heterogen yang terdiri dari suatu partikel Insektisida dalam pelarut organik yang terdispersi sebagai droplet halus dalam fase air. Partikel insektisida terbungkus kuat oleh emulsifier dan bertahan hingga disemprotkan sehingga bahan aktif siap kontak dengan serangga. Untuk mempertahankan kestabilan formulasi, maka emulsifier yang digunakan biasanya lebih “kuat” dibandingkan pada EC. Kelebihan dari formulasi ini adalah menggunakan pelarut organik lebih sedikit, iritasi berkurang, efek residu dan toksisitasnya lebih baik dibandingkan EC. Sedangkan kekurangan yang lain dibandingkan formulasi EC, bergantung pada kualitas formulasinya, adalah perlu mengocok formulasi dalam kemasan sebelum dilarutkan dengan air, karena ada kemungkinan terjadi pemisahan secara sementara. EW hanya bisa dilarutkan dengan air saja.
5. Wettable powder (WP)
WP adalah formulasi kering dengan cara mencampurkan bahan teknis dengan bubuk pembawa (seperti talkum, kapur) dan suatu zat pembasah. Penambahan zat pembasah memungkinkan campuran bahan teknis dan bahan pembawa dapat dilarutkan dalam air dan siap untuk diaplikasikan dengan alat semprot. Keuntungan formulasi WP ini kurang atau tidak bersifat fitotoksik dan bertahan pada permukaan apapun sehingga memberikan efek residual.
6. Water dispersible granule (WG)
Formulasi ini dikenal juga sebagai dry flowable, yaitu bentuk formulasi yang cara pembuatannya sama dengan WP namun kemudian di bentuk dalam partikel lebih besar yaitu granul. Formulasi ini dilarutkan dengan air dan diaplikasikan sebagaimana pada WP.
7. Suspension Concentrate (SC)
Formulasi SC mengandung partikel bahan aktif yang sangat kecil di dalam suatu cairan (biasanya air) dan partikel bahan aktifnya sebelumnya digiling dahulu untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil. Dalam pembuatan formulasi, bahan pen-suspensi dan bahan pembasah ditambahkan untuk menghindari partikel padat bahan aktif mengendap. Bahan pembasah diperlukan untuk tetap menjaga permukaan partikel padat terbasahi dengan air karena padatan tersebut umumnya bersifat hidrofobia.
8. Capsule Suspension (CS)
Formulasi mikrokapsul memberikan kombinasi karakteristik yang menguntungkan yaitu (a) aktifitas residu meningkat, (b) interval aplikasi lebih lama, (c) efek biologi yang konstan atau tertunda, (d) dapat diaplikasikan pada permukaan porous, (e) mengurangi toksisitas mamalia, (f) mengurangi polusi lingkungan, dan (g) mengurangi penguapan dan pencucian (leaching).
Pelepasan bahan aktif formulasi CS secara terkontrol bergantung pada ukuran partikel kapsul, ketebalan dan permeabilitas dinding. Partikel kecil dan dinding tipis mengakibatkan pelepasan tercepat, sedangkan partikel besar dan dinding tebal waktu pelepasan lambat. Cara yang sederhana untuk mengatur laju pelepasan bahan aktif dari kapsul adalah dengan mengatur ukuran partikel bahan aktif dan ketebalan serta permeabilitas dindingnya. Biasanya formulasi yang ditujukan untuk serangga terbang ukuran kapsulnya berkisar 10 – 20 µm, sedangkan untuk serangga merayap ukuran kapsul lebih besar yaitu 30 – 50 µm.
9. Dust (DP)
Formulasi ini mengandung bahan aktif dan bahan pembawa yang berbentuk tepung/bubuk dengan ukuran partikel berkisar 250 – 350 mesh dan merupakan formulasi siap pakai. Biasanya kadar bahan aktifnya relatif rendah (hanya berkisar 0.5 – 1 %) dibandingkan dengan formulasi WP.
10. Granul (GR)
Granul merupakan formulasi siap pakai dengan proses pembuatannya dengan menyemprotkan cairan Insektisida ke bahan butiran (misalnya pasir, sekam padi, dan tongkol jagung). Kadar bahan aktif dalam formulasi umumnya rendah, karena formulasi ini merupakan formulasi siap pakai tanpa pengenceran lebih lanjut.
11. Bait (B)
Formulasi ini terdiri atas lembaran tisu, granul, gel, pasta, tablet, bubuk, batangan/blok dsb. Bait merupakan campuran bahan aktif dengan bahan makanan hewan sasaran seperti beras, jagung atau atraktan lainnya.
12. Ultra-low Volume (UL)
Formulasi ini adalah formulasi siap pakai yang digunakan dengan alat semprot ULV dan umumnya digunakan untuk pengendalian vektor atau untuk kegiatan yang dilakukan untuk pengendalian serangga pada sekala besar, misalnya lapangan bola, taman, lingkungan perumahan dsb.
13. Mosquito Coil (MC)
Formulasi MC dikenal dengan anti nyamuk bakar (ANB) atau secara salah masyarakat umum menyebut sebagai obat nyamuk bakar. Formulasi MC dibuat dengan cara mencampurkan bahan aktif, yang umumnya adalah piretroid (knockdown agent), dengan bahan pembawa seperti tepung tempurung kelapa, tepung kayu, tepung lengket dan bahan lainnya seperti pewangi, anti jamur dan bahan pewarna. Berbagai variasi pemasaran telah berkembang pada formulasi ini mulai warna yang bermacam-macam (biasanya hanya hijau), bentuknya yang tidak selalu melingkar, dan berbagai jenis bahan pewangi untuk menarik pembeli.
14. Aerosol (AE)
Aerosol adalah formulasi siap pakai yang paling diminati di lingkungan rumah tanggga setelah formulasi MC dan liquid (AL). Untuk menghasilkan formulasi ini dilakukan dengan melarutkan bahan aktif dengan pelarut organik dan dimasukkan ke dalam kaleng aerosol dan selanjutnya diisi gas sebagai tenaga pendorong (propelan) untuk menghasilkan droplet halus melalui nosel.
15. Vaporizer
Formulasi ini mengandalkan bahan aktif yang menguap baik dengan bantuan energi dari luar maupun tanpa energi luar (passive vaporizer) untuk mengendalikan serangga terbang khususnya nyamuk, di dalam ruangan. Contohnya adalah Liquid vaporizer (LV), Mat Vaporizer (MV), Vapor release product (VP)
16. Formulasi Siap Pakai Lain
Beberapa macam formulasi siap pakai lain di luar yang telah dijelaskan di atas antara lain adalah lotion (LT) biasanya untuk repelen, briket/briquette, krim dan masih banyak lagi dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi formulasi.

Pengelolaan Insektisida

Pengelolaan dan penanganan insektisida perlu dilakukan dengan baik untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan menjamin mutu insektisida yang akan digunakan. Untuk itu harus diperhatikan beberapa hal :

Penyimpanan Insektisida

Proses penyimpanan insektisida yang digunakan dalam pengendalian vektor harus memenuhi persyaratan berikut ini:
1. Gudang Gudang tempat penyimpanan insektisida harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: – Aman dari pencurian, – Tidak bocor, – Tidak kena banjir, – Cukup ventilasi/penerangan atau pencahayaan, – khusus untuk gudang penyimpanan insektisida, terletak tidak menyatu dengan tempat permukiman – Tidak digabung dengan bahan non-insektisida
2. Konstruksi bangunan Gudang – Lantai dan dinding harus kedap air dan mudah dibersihkan- Langit – langit atap terbuat dari bahan yang ringan dan tidak tembus cahaya. – Bangunan dilengkapi dengan exhause fan (kipas penghisap) – Bahan bangunan sedapat mungkin tidak mudah terbakar
3. Sanitasi – Tersedia air bersih yang cukup – Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dengan kain lap – Tersedia tempat sampah
4. Tata letak tempat penyimpanan Penempatan insektisida harus ditata dengan baik: – Insektisida yang akan disimpan dikelompokkan berdasarkan bentuk formulasi (padat atau cair), secara tepat dan aman – Setiap kemasan insektisida tidak boleh diletakan langsung di atas lantai, untuk kemasan yang berat (drum, bags, boxes) diletakkan/disusun di atas balokbalok kayu (pallet), untuk kemasan kecil diletakkan / disusun di dalam rak Tinggi rak/susunan kemasan besar, maksimal 2 meter dan jarak dari atap gudang minimal 1 meter, – Insektisida dengan kemasan bungkusan yang berbentuk kotak disusun dengan sistem berkait dengan diberi jarak di antara tumpukan, untuk sirkulasi udara. – Jarak tumpukan insektisida dari dinding minimal 50 cm, untuk lewat orang – Cara meletakan dan menyusun kemasan insektisida harus diatur untuk memudahkan pemeriksaan dan sirkulasi barang (FEFO, first expired first out). – Penyimpanan insektisida harus dilengkapi dengan kartu stok, kartu gudang dan kartu barang – Di antara tumpukan insektisida harus ada lorong/ gang yang dapat dilalui dengan lebar minimal 50 cm.
5. Distribusi Distribusi perlu dilakukan dengan baik agar kualitas insektisida tetap terjamin. Untuk itu harus diperhatikan bahwa dalam pendistribusian insektisida, kemasan harus dijaga dari kerusakan atau kebocoran dan terlindung dari pengaruh cuaca luar (panas, hujan dll). Penempatan insektisida dalam sarana angkutan harus diatur sehingga tidak mudah terjadi benturan-benturan selama perjalanan
6. Penanganan insektisida di lapangan Penanganan insektisida selama operasional di lapangan perlu memperhatikan hal-hal berikut: – Penyimpanan sementara di lapangan/desa ditempatkan pada ruangan atau peti yang dapat dikunci – Harus ada petugas yang mengawasi – Sisa Insektisida segera dikembalikan ke gudang asal – Sisa larutan Insektisida dan wadahnya harus dikubur minimal setengah meter di dalam tanah, jauh dari sumber air.
7. Pemusnahan
Pemusnahan insektisida dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan penguburan dalam tanah (landfill), panas (thermal decomposition), dan kimiawi (chemical neutralization). Di antara cara-cara tersebut, yang paling mungkin dilakukan di lapangan adalah penguburan dalam tanah (landfill). a.Penguburan dalam tanah (Landfill) Cara ini pada dasarnya dipergunakan bila belum diperoleh cara lain yang lebih tepat. Untuk suatu jumlah sisa insektisida yang sedikit, maka penguburan dilakukan minimal setengah meter di dalam tanah, jauh dari sumber air.

b.Pemanasan (thermal decomposition) Pemusnahan insektisida dengan pemanasan dilakukan dengan suhu tinggi (9000C-10000C) melalui incinerator (instalasi pembakaran).

c.Kimiawi (Chemical Neutralization) Cara ini hanya dapat dilakukan oleh instansi yang kompeten

Baca Selengkapnya KLIK DISINI

Rate this post